Selamat datang! :)

Biasa Saja (: (Reblog)

Mari Jadikan ini sesuatu yang biasa saja. Benar-benar biasa.

Tanpa kekhawatiran, tanpa kegundahan dan juga tanpa kesedihan. Anggap saja ini adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang yang kembali melanjutkan perjalanannya. Melangkah untuk menaklukkan tempat baru, tantangan baru untuk menyambut takdir yang baru.

Biasa saja 🙂

 

*FM*

Syekh Dr. Abdurrahman Yusuf Jamal, Direktur Darul Quran wa Sunnah Gaza, Palestina menyatakan sambutannya atas  wakaf Mushaf Masjid Al Aqsha – KISPA: Kepada Muslim Indonesia bahkan muslim di dunia. Kami berdoa semoga program wakaf yang digulirkan KISPA bisa menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir sampai hari kiamat kelak, sabda Nabi Muhammad Saw : “Apabila anak Adam meninggal maka terputus segala amalannya kecuali 3 hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakannya”. Dan sebaik-baik amal yang ditinggalkan seorang muslim setelah wafatnya adalah Mushaf Al Quran yang dibaca serta dihafal oleh muslimin.

“Karena Al Quran ini diberi nama Mushaf Masjid Al Aqsha sesungguhnya ini merupakan kabar gembira akan dekatnya pembebasan Palestina dan juga Masjid Al Aqsha dari tangan zionis Yahudi. Sesungguhnya tentara penakluk adalah (mereka) penghafal Al Quran yang telah dibesarkan dengannya beserta pemahaman yang dalam akan Al Quran. Termasuk mereka yang menyebarkannya, maka jangan ragu untuk bergabung ke dalam kafilah ini agar ALLAH memberikan kemuliaan kepada kalian sebagai penebar kebaikan dan pembebas Masjid Al Aqsha. Kami berharap semoga ALLAH menuliskan (mentakdirkan) kita untuk bersama melakukan shalat berjamaah di sana”. (Fn)

source : eramuslim.com

Image

Orang-orang berisik

Juni 2013..

Tak terasa, sudah 2 tahun lamanya sejak kita mulai mendaki jalan yang berbeda.
Tapi rasanya, sampai saat ini aku masih bisa mendengar suara tawa kalian dengan sangat jelas.
Ya, suara-suara berisik yang sering aku dengar setiap pagi itu, selalu saja siap menyambutku dengan kalimat sapaan :

lis..lis..mesti jam segini baru dateng

aku pun hanya menjawabnya sambil meringis. Lalu, seketika itu juga aku akan segera meletakkan tasku di atas meja dan bergegas berlari keluar pintu. Dan lagi-lagi, mereka sangat mengerti diriku, bahkan kadang seperti sedang membaca pikiranku..

kamu pasti mau beli teh anget kan di kantin? Titip dong liiisss. Eh tapi habis ini pelajarannya Bu xxx lho (atau kadang Pak xxx), jadi jangan telat masuk kelasnya

oke deeeh!

Haha..
Kira-kira seperti itulah obrolan berisik yang sering terdengar saat pagi hari. Di dalam kelasku. Kelas IPS.
Aku memang sering bisa menjelma jadi superhero dadakan yang punya kemampuan berlari sangat kencang ketika bel masuk sudah berbunyi dan aku baru saja menginjakkan kaki di depan gerbang sekolah.
Saking kencangnya, aku mampu mencapai pintu kelas yang berjarak sekitar 50 meter dari gerbang dalam waktu beberapa detik saja. Benar-benar kencang. Karena dalam jarak waktu yang sangat mepet antara bunyi bel masuk dan instruksi untuk doa bersama secara terpusat, biasanya aku masih mampu berlari lagi menuju kantin untuk membeli minuman wajib di stand Pak Di, yaitu teh anget.
Jadi, ketika doa terpusat sudah dimulai, biasanya aku sudah dalam kondisi memegang segelas teh anget dan berdiri di pinggir lapangan sambil berdoa (karena secara etika dan peraturan di sekolahku, ketika ada doa terpusat, maka siapapun yang berada di lingkungan sekolah harus diam dan ikut berdoa. Kalaupun sedang dalam kondisi berjalan, kami harus berhenti sejenak sampai doa selesai dibacakan, entah itu di pinggir lapangan, di taman, di tempat parkir, pokoknya di semua sudut sekolah harus berhenti untuk berdoa).
Dan ketika doa sudah selesai, biasanya aku akan segera menuju kelas dan dengan tenang meminum teh anget kesukaanku. Hehe..

Orang-orang berisik itu pun biasanya hanya melihatku sambil geleng-geleng. Mungkin di dalam hati mereka berucap “arek iki ancen gak eroh wedi. Wes teko mepet bel masuk, kok sek sempet-sempete tuku teh anget nang kantin sampek mlayu-mlayu ngono


Kenangan ya.. :’)
Sepenggal ingatan itu saja sudah membuatku sangat merindukan mereka, orang-orang berisik itu. Orang-orang yang sudah memberikan banyak warna, mengajarkanku tentang tawa, mengajakku bersama menanggung luka, dan..semuanya..
ah..orang-orang berisik.. yang paling ndewo, gondes, cucut.. hahaha 😀
rindu tawa kalian.. suara kalian.. yang super berisik itu..tapi selalu menyemangati dan menceriakan suasana..
terima kasih ya, oase padang pasir….

Assalamu’alaikum 😀

Welcome back!

Setelah lama nggak menengok blog ini, Alhamdulillah ternyata dia masih baik-baik saja. Hehe
Maaf ya untuk semuanya, Insyaallah setelah ini akan aktif lagi ^^

Alhamdulillaah..

19+1.

Alhamdulillaah.. Puji syukur Kepada ALLAH Yang Memberiku kesempatan hidup hingga saat ini. BagiNYA lah seluruh pengabdianku dan tak ada Ilah yang berhak Disembah melainkan DIA. KekuasaanNYA meliputi seluruh langit dan bumi. Semua berada dalam GenggamanNYA.

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.

Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.

Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.

Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit.

Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.

Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.

Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.

Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan membelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.

Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.

Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.

Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.

Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?

Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?

Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.

’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.

Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.

”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.

Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani.

’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?

Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?

Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?

Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.

Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?

Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?

Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.

Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.

Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.

Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.

Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!

Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.

Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,

“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.

Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab.

Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.

Yang pertama adalah pengorbanan.

Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

..

indahnya (:

Durham Business School (:

MA and MSc in Islamic Finance

Two new postgraduate programmes from a leading University and School specialised in Islamic finance and banking studies and research with over twenty years of experience.

The new MA in Islamic Finance and MSc in Islamic Finance are now taking applications for the academic year 2010-2011, as part of the Durham Islamic Finance Programme (DIFP) located in the School of Government and International Affairs (SGIA).

Being the major centre for Islamic banking and finance studies in the West, DIFP and SGIA provide a number of programmes and courses in Islamic economics, banking and finance.

Both of these programmes will be jointly offered by SGIA and Durham Business School (DBS) by bringing together the expertise and reputation of two important institutions in their field.

The contribution by DIFP through teaching and research over two decades is an indication that the MA/MSc in Islamic Finance will be yet another successful area of the programme, which will further contribute to the reputation of our programme.

Rationale for MA/MSc in Islamic Finance Programme

Islamic banking and finance has become an important alternative banking and financing method all over the world and Islamic financial institutions are now operating in more than 70 countries involving the financing of various popular world brands.

Durham University has an international reputation in research as well as academic qualifications in the field; as currently Ph.D. and MAR (MA by Research) degrees are offered alongside Durham Islamic Finance Summer School (DIFSS). Doctoral and the Summer School programmes have become the largest and most successful programmes in the field.

The new MA and MSc Islamic Finance, as taught programmes, are intended to provide masters-level education and training in relevant specialised areas of Islamic finance and conventional finance in a supportive learning environment informed by research and shaped by the reputation of two specialised schools in their fields: SGIA and DBS.  Considering that DIFP is the only well established centre for research and teaching in Islamic finance in the West, the new MA/MSc in Islamic Finance will be another contribution of the DIFP to the development of the field and sector.

The broad aims of MA/MSc in Islamic Finance are:  

  • to develop an advanced understanding of the economics and finance and working mechanism and complexity of Islamic finance including its legal and regulatory framework and Shariah compliancy process;
  • to develop an advanced understanding of issues, such as risk, in Islamic finance and conventional finance including their practical aspects;
  • to develop a critical awareness of current issues in Islamic and conventional finance;
  • to develop a specialised understanding of appropriate techniques, peculiar to Islamic and conventional finance, sufficient enough to allow investigation into relevant financial management issues;
  • to develop a critical awareness of ethical and corporate social responsibility issues in Islamic and conventional finance;

Structure of the Programme

MA in Islamic Finance

(Course Code T6KP07)

MSc in Islamic Finance

(Course Code T6K209)

Core Modules

Islamic Banking and Finance

Islamic Law and Financial Transactions

Islamic Political Economy

Islamic Accounting

Research Methods in Business and Management

Theory of Finance

Financial Management

Dissertation

Core Modules

Islamic Banking and Finance

Islamic Law and Financial Transactions

Islamic Political Economy

Advanced Financial Theory

Econometrics I

Portfolio Management

Corporate Finance (MSc)

Dissertation

Optional Modules (You must choose one)

Behavioural Finance

Multinational Finance

Financial Planning and Control

Corporate Governance

Corporate Reporting

Optional Modules (You must choose one)

International Finance

Islamic Accounting

Financial Management

Behavioural Finance

Multinational Finance

International Financial Asset Management

Financial Risk Management

Derivative Markets

Financial Modelling and Business Forecasting

Corporate Governance

   

Note: Each module carries 15 credit; and Dissertation module carries 60 credits, you must have a total of 180 credits.

Admission Requirements:

  •  A bachelor’s degree (normally a 2.1 or first class degree) or an equivalent professional qualification from a recognised institution.
  •  Applicants for MSc in Islamic Finance should have knowledge and familiarity in quantitative economics and finance

Proficiency in English:

Applicants are expected to have IELTS score of 7.0 which is equivalent to TOEFL IBT 100 or above.

Application Process:

  •  Application is only possible through online (please follow the link).
  •  Applications would only be processed after receipt of complete application materials including transcripts and/or degrees (scanned copies are acceptable for initial screening), evidence of IELTS score of 7.0 AND two academic references.

For further information, please contact:

Dr Mehmet Asutay
email: mehmet.asutay@durham.ac.uk or email SGIA Postgraduate Admissions

Suara derap langkah menghentak bumi

Mantap dan pasti

Begitupun desir angin sahara

Nyanyiannya mendesah hebat di telinga

Menembus jauh ke dalam

Seakan-akan menertawakanku

Menciptakan harmoni yang mencekam

Menciutkan nyali

Sejenak tampaklah mereka

Dari jauh melangkah gagah dalam balutan baju besi

Perisai tubuhnya adalah keteguhan

Pedangnya adalah keberanian

Prajurit yang sudah siap mati rupanya

Sedari tadi pun aku sadar

Ini sudah ketiga kali

Perang harus dimulai lagi

Sebenarnya ini tak istimewa

Bukan pertempurannya raja-raja

Bukan pula perangnya para dewa

Ini sungguh tak lebih

Antara aku dan diriku saja

*LR

Ketika nafas mulai tersengal…

Ketika nyawa sedang meregang…

Ketika mata membelalak dan dahi berkeringat…

Pintu taubat telah tertutup. Engkau mulai memasuki gerbang kehidupan baru. Sementara istri, anak dan keluarga serta kerabatmu menangis dan merintih disisimu, engkau sedang dalam kesedihan yang mendalam, tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan dan menghindarkan dirimu dari jemputan Malaikat Maut. Kini, engkau saksikan dan rasakan sendiri peristiwa mengerikan itu, setelah sebelumnya engkau mereguk banyak kenikmatan dan kesenangan tanpa kenal rasa syukur. Telah datang ketentuan Allah kepadamu, lalu nyawamu diangkat ke langit. Setelah itu, kebahagiaan atau kesengsaraankah yang akan engkau dapat?

 

وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون۝ فلولا إذا بلغت الحلقوم۝ وأنتم حينئذ تنظرون۝ ونحن أقرب إليه منكم ولكن لا تبصرون۝ فلولا إن كنتم غير مدينين۝ ترجعو نها إن كنتم صدقين۝ فأما إن كان من المقربين۝ فروح وريحان وجنت نعيم۝ وأما إن كان من أصحب اليمين۝ فسلم لك من أصحب اليمين۝ وأما إن كان من المكذ بين الضالين۝ فنزل من حميم۝ وتصلية جحيم۝ إن هذا لهو حق اليقين۝ فسبح باسم ربك العظيم۝

“Kamu (mengganti) rizki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar, adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh rizki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapatkan hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.” (QS. Al-Waaqi’ah: 82-96)

 

Wahai jiwa-jiwa yang tertipu dunia…

Wahai hati yang keras membatu karena hawa nafsu…

Wahai manusia yang lalai dari ketaatan kepada Rabbnya…

Sudahkah engkau mempersiapkan bekal menuju perjalanan panjang dan berat didepanmu?

Sudahkah engkau mengetahui tempat seperti apa yang kelak kau tinggali?

Sudahkah engkau memikirkan semua itu…?

 

Saudaraku, cukuplah kematian menjadi peringatan untuk kita bahwa dunia hanyalah kebahagiaan semu dan tak berarti apa-apa. Tidakkah engkau dengar sebuah firman Rabbmu yang sanggup menggetarkan gunung,

كل نفس ذا ئقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيـمة فمن زحزح عن النـار وأدخل الجنـة فقد فاز وما الحيوة الد نيا إلا متع الغرور۝

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. ‘Ali Imran: 185)

 

Tidakkah ayat tersebut mengusik hati yang lama mati? Tidakkah ayat tersebut membuat telinga yang tuli menyimak kembali? Tidakkah ayat tersebut menjadi cambuk diri?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لو تعلمون مل أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثبرا

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Saudaraku, sudahkah datang kepadamu khabar kematianmu? Kapan waktumu? Dimana tempatnya? Seperti apa kondisimu kala itu? Demi Allah, engkau tidak tahu dan engkau tidak akan pernah tahu. Jadi kenapa kau tunda taubatmu? Kau tunda perbaikan dirimu? Kau tunda persiapan perbekalanmu? Apakah “nanti” yang selalu kau katakan untuk taubatmu berada pada jarak yang jauh dengan ajalmu? Apakah “nanti” itu yang kau temui lebih dulu ataukah kematianmu yang datang lebih dulu? Apakah ketika engkau sudah benar-benar mengetahui perih dan pedihnya sakaratul maut, baru engkau akan meminta waktu kepada Rabbmu untuk bertaubat?

 

حتى إذا جاء أحدهم الموت قال رب ارجعون۝ لعلى أعمل صلحا فيما تركت, كلا, إنها كلمة هو قا إلها۝

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang diantara mereka, dia berkata, ‘Yaa Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

 

وليست التو بة لـلذ ين بعملون السيئات حتى إذا حضر أحدهم الموت قال إنى تبت الئن۝

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.’” (QS. An-Nisaa’: 18)

 

Seorang penyair berkata,

Mereka katupkan kelopak mataku –setelah berputus asa-

lantas bergegas pergi membelikanku kafan

salah seorang kerabatku berdiri dengan tergesa

pergi ke tukang memandikan mayat agar datang memandikanku

salah seorang mendatangiku lalu melucuti semua pakaianku

dan menelanjangiku sendirian

mengucurkan air dari atas kepalaku dan memandikanku

tiga kali seraya meminta kafan kepada keluargaku

dan mereka mengenakanku baju tanpa lengan dan tanpa jahitan

hanya kamper sebagai bekalku

mereka meletakkanku di dekat mihrab lalu mundur di belakang imam

menshalatiku lalu melepasku

mereka menshalati jasadku dengan shalat tanpa ruku’ dan sujud

Semoga Allah merahmatiku…

 

Di hari kematianmu, keluarga dan kerabat mengangkat jasadmu di atas pundak, setelah sebelumnya engkau menjadi orang yang mengangkat jasad orang lain. Kala itu, apakah jasadmu ingin supaya mereka mempercepat langkahnya, atau malah jasadmu bingung –hendak dibawa kemana jasadmu itu?

Kemudian, mereka memasukkanmu kedalam lubang sempit dan gelap setinggi dua meter oleh orang-orang yang paling engkau cintai dan keluarga yang paling dekat denganmu. Mereka menutupimu dengan papan sehingga menghalangi cahaya matahari yang hendak masuk ke dalam liang lahatmu. Lalu, mereka menimbun jasadmu dengan tanah sampai tertutupi kuburanmu. Salah seorang dari mereka berkata, “Mintakanlah ampun untuk saudaramu, dan mintakanlah ketetapan iman untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.”

Tidak berapa lama, mereka semua pergi meninggalkan tubuh dingin dan kaku yang dulunya adalah dirimu yang rupawan. Mereka meninggalkanmu dalam gelap dan dingin. Di sekelilingmu hanyalah tanah dan tanah. Lalu dikembalikanlah ruhmu kepada jasadmu, dan datanglah dua malaikat yang biru kehitam-hitaman untuk bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?” Dengan apakah engkau akan menjawabnya..?

 

Jika ketika engkau mati, engkau telah bertaubat dan beriman, maka Allah akan meneguhkan jawabanmu, dan engkau bisa mengambil hadiahmu berupa kebahagiaan di akhirat kelak, seperti disebutkan dalam firman-Nya,

يثبت الله الذ ين ءامنوا بالقول الثابت فى الحيوة الدنيا وفى الأخـرة ويضـل الله الظـلمين ويفعل الله ما يشاء۝

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ibrahim: 27)

 

Namun, bagaimana jika ketika engkau meninggal, engkau belum sempat bertaubat? Engkau tidak akan tahu jawaban atas pertanyaan itu. Engkau hanya akan berkata, “Hah… hah… aku tidak tahu!” Kemudian terdengarlah seruan, “Bohong! Baringkan ia di Neraka, dan bukakan pintu Neraka untuknya!” Maka engkau akan merasakan panasnya Neraka, kuburanmu akan menghimpit dan meremukkan seluruh tulang belulangmu. Kemudian datanglah kepadamu seseorang yang berwajah amat buruk, berbau busuk dan berbaju lusuh, ia berkata, “Aku datang kepadamu membawa berita buruk. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.” Maka bertanyalah dirimu tentang dirinya, maka dia menjawab, “Aku adalah amal burukmu.” Kemudian menjadilah dirimu buta, bisu dan tuli, dan tanganmu memegang sebatang besi yang apabila sebuah gunung dipukul dengan besi tersebut maka hancurlah dia hingga menjadi debu. Begitupula dirimu, ketika palu besi itu mengenai dirimu maka rasa sakit yang tiada tertahankan akan membuatmu menjerit hingga lengkingannya terdengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Dan tidak ada yang engkau harapkan setelah itu, melainkan agar Allah tidak menyegerakan Hari Perhitungan.

 

Wahai calon penghuni kubur, apa yang membuatmu terpedaya oleh dunia? Tidakkah engkau mengetahui bahwa akan tiba waktunya engkau meninggalkan dunia yang engkau cintai ini atau dunia yang akan meninggalkanmu? Mana hartamu yang berlimpah dan rumahmu yang mewah? Mana pakaian-pakaian mahal dan indah yang selalu engkau kenakan itu? Mana keluarga dan kerabat yang selalu engkau bela itu? Mana dirimu yang rupawan itu?

 

Ketika engkau telah menghuni liang lahat, maka itulah rumahmu. Kafan yang berharga murah dan tidak bermerk, itulah pakaianmu. Aroma kamper adalah wewangianmu. Ulat dan cacing menjadi temanmu. Bayangkan jasadmu setelah terkubur selama tiga hari, seminggu, sebulan. Kala itu, tubuhmu telah menjadi penganan lezat bagi cacing dan ulat –teman-temanmu-, kafanmu terkoyak, mereka masuk ke dalam tulangmu, memutus anggota tubuhmu, merobek sendi-sendimu, melelehkan biji matamu… Itulah kesudahanmu, kesudahan makhluk-makhluk bernyawa.

 

Demikian saudaraku, cukuplah kematian menjadi peringatan dan nasihat. Cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, menjadikan mata menangis, menjadi ajang perpisahan dengan orang-orang yang dicintai dan menjadi pemutus segala kenikmatan dunia.

Wahai saudaraku… setiap hela nafasmu menjadi langkah maju menuju kematian. Maka janganlah menunggu ‘nanti’ untuk bertaubat, tapi bersegeralah, karena engkau tidak pernah tahu sudah sedekat apa kematian itu dengan dirimu.

 

Yaa Rabbi, janganlah Engkau mengadzabku

Sesungguhnya aku mengakui dosa-dosaku selama ini

Berapa kali aku berbuat kesalahan di dunia

Namun Engkau tetap memberiku karunia dan kenikmatan

Jika aku ingat penyesalanku atas segala kesalahan

Kugigit jariku dan kegeretakkan gigiku

Tiada alasan bagiku kecuali tinggal harapan dan husnuzhanku

Dan ampunan-Mu jika Engkau mengampuniku

Manusia mengira aku orang baik-baik

Padahal aku benar-benar manusia terburuk bila tidak Engkau ampuni

 

(Syaikh Abdul Muhsin bin Abdur Rahman dalam Fasatadzkuruna Maa Aquulu Lakum Waqofat Liman Aroda an-Najah)

Tag Cloud